Ruangan berbentuk kubah dengan dinding-dinding holografik memancarkan data yang terus bergulir. Lampu biru dingin menyapu lantai logam, menciptakan bayangan tajam dari sosok-sosok yang berdiri di dalamnya. Di tengah ruangan, sebuah platform melingkar berpendar dengan energi interdimensional, siap menjadi gerbang menuju dunia lain.

Seorang wanita dengan pakaian tempur hitam ketat—desain aerodinamis yang mempertegas lekuk tubuhnya—berdiri tegap di depan seorang komandan dan seorang profesor. Matanya yang tajam, berwarna ungu kebiruan, memancarkan ketenangan yang mematikan. Rambutnya yang panjang, hitam seperti malam, diikat rapi ke belakang.

"Kau mengerti misimu, Kanaya?" suara Komandan Vex berat.

"Temukan Profesor Milo. Atau jika tidak mungkin, bawa profesor Lala, anaknya," lanjut Dokter Zhang, menggeser kacamata teknologisnya.

DOkter Zhang adalah pemimpin ilmuwan yang berada di bawah komando pemerintah yang di pimpin oleh Komandan Vex, dimana mereka mendapatkan tugas untuk menjalankan proyek rahasia seperti pengembangan senjata.

Layar hologram di tangannya memproyeksikan gambar seorang pria berambut pirang dengan bekas luka kecil di pipi, dan seorang gadis dengan mata besar yang polos. "Satelit kami menemukan lokasi mereka beberapa hari yang lalu."

Kanaya mengangguk pelan, jari-jarinya yang bersarung tangan meraba pisau pendek di sabuknya. "Dan jika mereka melawan?"

"Kau tahu jawabannya," Komandan Vex menyeringai. "Selain Milo dan anaknya, kami tidak peduli. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu inginkan. Tapi untuk Milo dan Lala, kami memerlukan hasil penelitian mereka. Kamu harus bisa membawa mereka kemari, kecuali kamu berhasil mendapatkan hasil penelitian mereka."

Sebuah senyum tipis mengembang di bibir Kanaya. "Tenang saja, aku tidak akan gagal dengan misiku. Ingat janjimu Komandan. Kamu akan melepaskanku dan memberikan bayaran yang bagus jika misiku berhasil."

Komandan Zhang berkata dengan tegas,"KIta lihat nanti, buktikan kemampuanmu terlebih dahulu!"

"Kalian tidak akan memilihku jika tidak mengetahui kemampuanku yang tidak pernah gagal menjalankan misi." Kata Kanaya dengan bangga.

"Kamu jangan meremehkan mereka. Satu team terkuatku sudah kukirim beberapa bulan yang lalu, namun hingga saat ini mereka tidak ada kabar. Aku yakin sudah terjadi sesuatu dengan mereka. Aku menyuruhmu berangkat sendirian karena aku tahu kemampuanmu yang ahli menyamar dan mampu memanipulasi pikiran seseorang."

Dokter Zhang mengaktifkan konsol. "Waktumu terbatas. Dunia target sangat luas, populasi padat. Jika mereka berpindah lokasi, kita akan kehilangan mereka. Berikan tanda jika kamu berhasil agar kami bisa membuka portal untuk kamu kembali!"

Platform di tengah ruangan mulai berputar cepat, energi biru listrik menyambar-nyambar. Kanaya melangkah ke atasnya, tubuhnya diselimuti cahaya.

"Jangan gagal," bisik Komandan Vex.

Dan dalam sekejap—dia lenyap.

Menuju dimensi dimana Lala, Lynx dan Leena berada.

Dokter Zhang berjalan mendekat dengan perlahan," Komandan, apa kamu yakin dia mampu menangkap profesor Milo dan anaknya? Kita belum memiliki cukup data mengenai dunia itu."

"Kamu tidak perlu khawatir. AKu mengirimkan wanita jalang itu kesana karena aku tahu kemampuan dia yang bisa beradaptasi dengan cepat. Kemampuan mutannya cukup berguna untuk menangkap mereka berdua. Selain itu, aku tidak bisa mengirimkan regu lain secara terang-terangan tanpa izin. Presiden sudah mencurigai tindakan kita." Kata Komandan Vex kepada Dokter Zhang, anak buah kepercayaannya.

"Setelah kita berhasil mendapatkan hasil penelitian Milo, dan membangun ulang para prajurit kita, akan segera kita  bersihkan dunia ini dari sampah-sampah tidak berguna dan membangun dunia yang lebih baik." Lanjutnya.

***

Melihat pemuda di depannya, seorang kultivator Forging qi Tingkat dua, Leluhur terdiam, pikirannya berputar dengan cepat. "Jadi... kekuatan luar biasa yang dia tunjukkan saat bertarung tadi... berasal dari artefak yang dia kenakan?"

Matanya memperhatikan sabuk yang masih dikenakan Lynx, menduga bahwa benda itu adalah kunci dari kekuatannya.

Lynx diam, mengamati reaksi Leluhur dengan tajam.

Jika Leluhur menunjukkan tanda-tanda keserakahan atau berusaha merebut artefaknya, Lynx sudah bersiap untuk memberi pelajaran keras.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Alih-alih menatap artefak itu dengan penuh keinginan, Leluhur malah menghela napas panjang. Ada kekaguman di matanya, tetapi tidak ada keserakahan.

"Luar biasa..." gumamnya. "Jika aku tidak salah menebak, artefak itu yang membuat kamu memiliki kekuatan seperti itu?"

Lynx sedikit lega.Namun dia tidak menjawa pertanyaan yang di ajukan. Dia tidak ingin berbohong kepada kakek tua didepannya, namun dia juga tidak ingin memberitahukan rahasianya sehingga dia hanya tersenyum.

"AKu baru mengetahui jika ada artefak sekuat itu di dunia ini. Aku yakin artefak tersebut melebihi kekuatan surgawi. Kamu harus menjaganya dengan baik dan merahasiakan. Karena orang-orang akan saling membunuh hanya untuk mendapatkan artefak milimu." kata Leluhur sambil menggelengkan kepala.

Dalam benaknya, terbayang dunia akan berada dalam kekacauan jika mereka mengetahui tentang adanya artefak ini. Senjata iblis, sebuah senjata berbahaya yang dapat memberikan kekuatan namun mempengaruhi pemiliknya. Senjata itupun menjadi rebutan tanpa memikirkan konsekuensinya. Mendapatkan kekuatan sudah menjadi impian banyak orang, dan pemuda di depannya justru dengan santainya membawa artefak tersebut kemana-mana.

Lynx merasa tertarik dengan leluhur Sekte Api Langit,"apakah anda sendiri tidak tertarik untuk memilikinya?" Lynx mencoba memancingnya.

"Aku sudah tua, dan kekuatanku juga sudah cukup. Aku lebih menyukai kekuatan yang kudapatkan dari diri sendiri." Katanya dengan bangga. Secara halus, dia juga mengingatkan Lynx agar tidak terlena dengan kekuatan yang bukan berasal dari dirinya sendiri.

"Aku menghormati pemikiran leluhur?" Lynx berkata dengan nada hormat dan kagum.

"Aku tidak peduli bagaimana kau memperoleh kekuatanmu," lanjut Leluhur. "Selama niatmu tidak berbahaya bagi sekte ini, aku tidak akan mempertanyakan lebih lanjut. Tetapi aku ingin tahu satu hal..."

"Apa itu?"

Leluhur menatap Lynx lurus-lurus. "Apa tujuanmu sebenarnya? Dan siapa dirimu?"

Lynx menatap Leluhur Sekte Api Langit dengan mata tenang. "Namaku Xiao Ling. Aku tidak memiliki niat apapun terhadap sekte ini. Sebenarnya, aku mengenal Ling Mei dan Li Wei. Karena itu aku berada disini, karena Li Wei memanggilku saat dia dalam bahaya."

Leluhur mengangguk pelan, menunggu pemuda itu melanjutkan.

"Aku harap dengan ini, leluhur bisa mempercayaiku. Aku tidak ada hubungannya dengan kematian ketua sekte."

Leluhur menatap tajam ke arah pemuda di depannya. Entah bagaimana, meski dia merasakan kekuatan pemuda di depannya hanya forging qi tingkat dua, tapi alam bawah sadarnya mengingatkan bahwa pemuda di depannya sangatlah berbahaya jika menjadi lawan.

Leluhur lalu mengelus jenggotnya, "Anak muda, usiamu masih muda. Tetapi aku merasakan, kamu sudah mengalami hal yang sangat berat. Ku harap, kamu selalu melindungi orang-orang tidak bersalah dan membasmi kejahatan."

"Leluhur tenang saja, aku tidak akan membiarkan kejahatan terjadi didepanku, Terutama orang-orang dari sekte kegelapan, dan orang-orang yang berniat membangkitkan senjata iblis." Kata Lynx dengan tenang namun penuh tekad.

"Jadi kamu juga mengetahui tentang senjata iblis. Apakah kamu juga ingin mengumpulkan fragment senjata tersebut?" tanya Leluhur yang mencoba mengetahui niat pemuda di hadapannya.

"TIdak leluhur. Tetapi, Aku ingin menghentikan dan memastikan Fragmen Senjata Iblis tidak jatuh ke tangan yang salah. Karena itu kuharap kita bisa bekerja sama dan meminta bantuan leluhur untuk merahasiakan identitasku. " Jawab Lynx.

Leluhur menghela napas panjang. Matanya menatap pemuda di hadapannya dengan penuh pertimbangan. Xiao Ling bukan hanya kuat, tetapi juga memiliki tujuan yang jelas. Pengalaman hidupnya mengatakan pemuda di depannya memiliki hati yang bersih.

Akhirnya, Leluhur berkata, "Baiklah. Aku akan mempercayaimu dan merahasiakan identitas aslimu."

Xiao Ling tersenyum tipis sebelum kembali mengaktifkan artefaknya. Pakaian tempur hitamnya kembali muncul, menyelimuti tubuhnya dengan aura misterius yang begitu kuat.

Leluhur memperhatikan perubahan yang terjadi, dari hanya forging qi pemula, kekuatannya terus naik hingga ke ranah immortal."Artefak yang sangat luar biasa. Tetapi dengan ini, ada harapan dunia ini menghadapi kehancuran." Batin Leluhur. Dia selama ini berlatih keras karena sesuatu yang besar akan datang dan menghancurkan dunia mereka. Sebuah kekuatan yang mungkin belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Setelah itu, Leluhur memanggil kembali para tetua, serta Ling Mei dan Li Wei.

